Rabu, 04 Januari 2017



Si Gadis Kuntul

Gadis itu tertawa ngakak. Suaranya khas. Suara itu yang kadang membuat teman-teman dan gurunya senewen. “Ah, dulu ibumu ngidam burung kutilang, ya?” tanya gurunya. “Wow, enak saja Bapak bilang, nggak Pak. Yang bener burung kuntul,“ timpal Salsa sambil meringkikkan tertawa khasnya. Seisi kelas pun ikut tertawa kecuali si Jupri, ia hanya menekuk cemberut mulutnya, entah mengapa hanya dia yGadis itu tertawa ngakak. Suaranya khas. Suara itu yang kadang membuat teman-teman dan gurunya senewen. “Ah, dulu ibumu ngidam burung kutilang, ya?” tanya gurunya. “Wow, enak saja Bapak bilang, nggak Pak. Yang bener burung kuntul,“ timpal Salsa sambil meringkikkan tertawa khasnya. Seisi kelas pun ikut tertawa kecuali si Jupri, ia hanya menekuk cemberut mulutnya, entah mengapa hanya dia yang bertingkah misterius seperti itu. Ditengah pikuknya geang bertingkah misterius seperti itu. Ditengah pikuknya gelak tawa mereka Pak guru menyela. “Sudah-sudah diam, perilaku gabaik kok diketawain, mau dilanjutkan apa tidak pelajarannya?!” dengan muka sedikit jengkel Pak guru berhasil mengembalikan susasana kelas kondusif seperti semula. Sekolah Salsa terkenal dengan pendidikan akhlak nya yang dinomor satukan, bahkan sebelum kurikulum 2013 berlaku pun sudah diterapkan pendidikan seperti itu, cukup sulit bagi seseorang seperti Salsa yang dahulunya saat SMP terbiasa dengan lingkungan yang nyelelek harus berperilaku manis disini.
*Kriiiiinggg................*
“Yeeeay kantin!” seru Salsa yang memang selalu cerewet saat mendengar apapun. Pak guru sebenarnya kesal, hanya saja ia memilih untuk memendamnya untuk sementara waktu. “Sebentar, bapak kasih tugas untuk dikerjakan dirumah dahulu”. Salsa yang tadinya sudah semangat sudah memasukkan bukunya ke ransel pink kesukaannya, dengan muka berat hati mengeluarkan bukunya lagi. “Sabar ya tul,” ejek Doni untuk menggoda Salsa. “Loh kok tul?” bingung Salsa sambil menggaruk rambut hitam dibalik kerudungnya itu menandakan kebingungan. “Iya tul, kuntul ahahaha” tawa Doni. Salsa memang orang yang plak-plok kalo sedang bercanda memang tangannya bisa saja sewaktu-waktu nyasar di pundak lawan bicaranya, tak kaget Doni menjadi sasaran pertamanya di pagi ini. Pak Guru selesai menuliskan tugas yang harus dikerjakan dan harus diselesaikan keesokan harinya, ia pun meninggalkan ruangan dan kembali ke kantor. *bruk* suara dari tumpukan buku yang dibawa Pak Guru dijatuhkannya dengan sedikit kasar di mejanya mengundang perhatian dari ibu guru Matematika yang duduk bersampingan dengannya. “Ada apa pak la kok mukanya begitu?” tanya Ibu Guru. “Itu bu biasa, si Salsa murid kelas satu”. “Kenapa pak dia berulah lagi? Saya tu juga jengkel sama anak itu pak, dia tu cewek tapi kelakuannya gitu,” Nyinyir Ibu Guru. “Laiya bu sama, saya udah gatahan, sekali lagi dia buat kesalahan saya mau ajak diskusi sama guru konseling.” Ibu Guru hanya tersenyum dengan logat setuju dengan yang diucapkan Pak Guru. Jupri yang sedang menemui seorang guru tidak sengaja mendengarkan perbincangan itu, tetap saja ia bertingkah aneh seperti biasanya.
Sepulang sekolah, Salsa dan Karin, teman sepaketnya dari kecil dulu, seperti biasa bergegas untuk meninggalkan sekolah, namun mereka tidak pernah langsung pulang ke rumah melainkan menghabiskan sore di cafe atau tempat semacamnya. “Hmmmm keluar lagi yuk, gabut nih”. Entah apa yang mempengaruhi Salsa, ia malas untuk pulang. Karin tak akan sampai hati untuk menolak ajakan itu karena sudah dari dulu mereka bersama dikeadaan apa pun. Mereka pun keluar ke sebuah kedai mewah tidak jauh dari rumah, tidak terasa jam sudah menunggu di pukul 10. Mereka kembali ke rumah masing-masing. Terlepas dari semua itu, sesampainya dirumah Karin teringat akan tugas yang diberikan oleh Pak Guru pagi tadi, pasti Salsa juga ingat anggapnya. Sementara itu Salsa telah terlelap karena kecapean, maklum dialah yang paling hyperaktif diantara teman-temannya.*tulit* “eh tumben jam segini ada sms. Ha si Jupri kenapa tiba-tiba sms minta nomor si Salsa? Tauk ah kasi aja”. Salsa, jangan lupa kerjain tugas Pak Guru yang tadi pagi. Sebuah pesan singkat dari nomor tak bernama di Smartphone milik Salsa, namun Salsa telah terlelap dibalik selimutnya.
Salsa belum mengerjakan tugasnya, karena terlalu capai ia juga bangun kesiangan, secepat mungkin ia berangkat kesekolah, namun 15 menit bukanlah waktu yang sebentar untuk terlambat, Pak Guru sudah duduk meminta tugas untuk dikumpulkan. “Kamu itu darimana aja, jam segini baru berangkat? Sana berdoa sendiri habis itu kumpulkan tugasnya”. Salsa kebingungan mencari alasan, ia yang biasanya santai dan cerewet kali ini menjadi panik karena ini ketiga kali ia lupa mengerjakan tugas dalam satu minggu ini. Setelah Salsa selesai berdoa ia sudah memutuskan untuk mengatakan bahwa ia belum menyelesaikan tugasnya. “Sal, Salsa” suara itu Salsa dengar bersamaan tepukan kecil di pundaknya. “eh kenapa Jup?”, “ini bawa bukunya, kasi nama buruan tumpuk,” Kata Jupri. Ditengah kepanikan Salsa, ia langsung melakukan yang dikatakan oleh Jupri, orang yang tidak pernah ikut tertawa saat Salsa melucu di depan guru. Setelah lega, ia menyimpan rasa herannya hingga saat pelajaran usai, “Jup, sini! Kamu ko kasihin bukumu si tadi?” tanya Salsa. Jupri tidak langsung menjawab pertanyaan itu, ia menjelaskan banyak hal. Salsa tercengang karena ternyata ia menemukan alasan Jupri tidak pernah tertawa saat Salsa bercanda nyeleneh, ternyata Jupri sangat simpati terhadapnya, ia tau banyak tentang Salsa, semua yang diketahui oleh Jupri, tentang Salsa. Jupri juga menceritakan saat ia dikantor, apa yang dia dengar dari pembicaraan Pak Guru, hingga akhirnya Salsa pun tau bahwa ternyata sikapnya itu tidaklah menjadikan dirinya terlihat baik meskipun ia memang cantik, melalui nasihat dari Jupri, Salsa akhirnya dapat menjadi gadis yang lebih baik, semua tawa khasnya yang bikin senewen itu sudah tidak lagi memenuhi ruangan yang disebut kelas.

1 komentar: