Si Gadis
Kuntul
Gadis itu tertawa ngakak.
Suaranya khas. Suara itu yang kadang membuat teman-teman dan gurunya senewen.
“Ah, dulu ibumu ngidam burung kutilang, ya?” tanya gurunya. “Wow, enak saja
Bapak bilang, nggak Pak. Yang bener burung kuntul,“ timpal Salsa sambil
meringkikkan tertawa khasnya. Seisi kelas pun ikut tertawa kecuali si Jupri, ia
hanya menekuk cemberut mulutnya, entah mengapa hanya dia yGadis itu tertawa ngakak.
Suaranya khas. Suara itu yang kadang membuat teman-teman dan gurunya senewen.
“Ah, dulu ibumu ngidam burung kutilang, ya?” tanya gurunya. “Wow, enak saja
Bapak bilang, nggak Pak. Yang bener burung kuntul,“ timpal Salsa sambil
meringkikkan tertawa khasnya. Seisi kelas pun ikut tertawa kecuali si Jupri, ia
hanya menekuk cemberut mulutnya, entah mengapa hanya dia yang bertingkah
misterius seperti itu. Ditengah pikuknya geang bertingkah
misterius seperti itu. Ditengah pikuknya gelak tawa mereka Pak guru menyela.
“Sudah-sudah diam, perilaku gabaik kok diketawain, mau dilanjutkan apa tidak
pelajarannya?!” dengan muka sedikit jengkel Pak guru berhasil mengembalikan
susasana kelas kondusif seperti semula. Sekolah Salsa terkenal dengan
pendidikan akhlak nya yang dinomor satukan, bahkan sebelum kurikulum 2013
berlaku pun sudah diterapkan pendidikan seperti itu, cukup sulit bagi seseorang
seperti Salsa yang dahulunya saat SMP terbiasa dengan lingkungan yang nyelelek harus berperilaku manis
disini.
*Kriiiiinggg................*
“Yeeeay kantin!” seru Salsa yang
memang selalu cerewet saat mendengar apapun. Pak guru sebenarnya kesal, hanya
saja ia memilih untuk memendamnya untuk sementara waktu. “Sebentar, bapak kasih
tugas untuk dikerjakan dirumah dahulu”. Salsa yang tadinya sudah semangat sudah
memasukkan bukunya ke ransel pink kesukaannya, dengan muka berat hati
mengeluarkan bukunya lagi. “Sabar ya tul,” ejek Doni untuk menggoda Salsa. “Loh
kok tul?” bingung Salsa sambil menggaruk rambut hitam dibalik kerudungnya itu
menandakan kebingungan. “Iya tul, kuntul ahahaha” tawa Doni. Salsa memang orang
yang plak-plok kalo sedang bercanda
memang tangannya bisa saja sewaktu-waktu nyasar di pundak lawan bicaranya, tak
kaget Doni menjadi sasaran pertamanya di pagi ini. Pak Guru selesai menuliskan
tugas yang harus dikerjakan dan harus diselesaikan keesokan harinya, ia pun
meninggalkan ruangan dan kembali ke kantor. *bruk* suara dari tumpukan buku
yang dibawa Pak Guru dijatuhkannya dengan sedikit kasar di mejanya mengundang
perhatian dari ibu guru Matematika yang duduk bersampingan dengannya. “Ada apa
pak la kok mukanya begitu?” tanya Ibu Guru. “Itu bu biasa, si Salsa murid kelas
satu”. “Kenapa pak dia berulah lagi? Saya tu juga jengkel sama anak itu pak,
dia tu cewek tapi kelakuannya gitu,” Nyinyir Ibu Guru. “Laiya bu sama, saya
udah gatahan, sekali lagi dia buat kesalahan saya mau ajak diskusi sama guru
konseling.” Ibu Guru hanya tersenyum dengan logat setuju dengan yang diucapkan
Pak Guru. Jupri yang sedang menemui seorang guru tidak sengaja mendengarkan
perbincangan itu, tetap saja ia bertingkah aneh seperti biasanya.
Sepulang sekolah, Salsa dan
Karin, teman sepaketnya dari kecil dulu, seperti biasa bergegas untuk
meninggalkan sekolah, namun mereka tidak pernah langsung pulang ke rumah melainkan
menghabiskan sore di cafe atau tempat semacamnya. “Hmmmm keluar lagi yuk, gabut
nih”. Entah apa yang mempengaruhi Salsa, ia malas untuk pulang. Karin tak akan
sampai hati untuk menolak ajakan itu karena sudah dari dulu mereka bersama
dikeadaan apa pun. Mereka pun keluar ke sebuah kedai mewah tidak jauh dari
rumah, tidak terasa jam sudah menunggu di pukul 10. Mereka kembali ke rumah
masing-masing. Terlepas dari semua itu, sesampainya dirumah Karin teringat akan
tugas yang diberikan oleh Pak Guru pagi tadi, pasti Salsa juga ingat anggapnya.
Sementara itu Salsa telah terlelap karena kecapean, maklum dialah yang paling hyperaktif diantara teman-temannya.*tulit*
“eh tumben jam segini ada sms. Ha si Jupri kenapa tiba-tiba sms minta nomor si
Salsa? Tauk ah kasi aja”. Salsa, jangan lupa kerjain tugas Pak Guru yang tadi
pagi. Sebuah pesan singkat dari nomor tak bernama di Smartphone milik Salsa,
namun Salsa telah terlelap dibalik selimutnya.
Salsa belum mengerjakan tugasnya,
karena terlalu capai ia juga bangun kesiangan, secepat mungkin ia berangkat
kesekolah, namun 15 menit bukanlah waktu yang sebentar untuk terlambat, Pak
Guru sudah duduk meminta tugas untuk dikumpulkan. “Kamu itu darimana aja, jam
segini baru berangkat? Sana berdoa sendiri habis itu kumpulkan tugasnya”. Salsa
kebingungan mencari alasan, ia yang biasanya santai dan cerewet kali ini
menjadi panik karena ini ketiga kali ia lupa mengerjakan tugas dalam satu
minggu ini. Setelah Salsa selesai berdoa ia sudah memutuskan untuk mengatakan
bahwa ia belum menyelesaikan tugasnya. “Sal, Salsa” suara itu Salsa dengar
bersamaan tepukan kecil di pundaknya. “eh kenapa Jup?”, “ini bawa bukunya, kasi
nama buruan tumpuk,” Kata Jupri. Ditengah kepanikan Salsa, ia langsung
melakukan yang dikatakan oleh Jupri, orang yang tidak pernah ikut tertawa saat
Salsa melucu di depan guru. Setelah lega, ia menyimpan rasa herannya hingga saat
pelajaran usai, “Jup, sini! Kamu ko kasihin bukumu si tadi?” tanya Salsa. Jupri
tidak langsung menjawab pertanyaan itu, ia menjelaskan banyak hal. Salsa
tercengang karena ternyata ia menemukan alasan Jupri tidak pernah tertawa saat
Salsa bercanda nyeleneh, ternyata
Jupri sangat simpati terhadapnya, ia tau banyak tentang Salsa, semua yang
diketahui oleh Jupri, tentang Salsa. Jupri juga menceritakan saat ia dikantor, apa
yang dia dengar dari pembicaraan Pak Guru, hingga akhirnya Salsa pun tau bahwa
ternyata sikapnya itu tidaklah menjadikan dirinya terlihat baik meskipun ia
memang cantik, melalui nasihat dari Jupri, Salsa akhirnya dapat menjadi gadis
yang lebih baik, semua tawa khasnya yang bikin senewen itu sudah tidak lagi
memenuhi ruangan yang disebut kelas.
Cek dulu sebelum diunggah. Lihat aline 1 diulang-ulang.
BalasHapus